Search result
Bangsa Indonesia harus belajar dari Hillary Clinton bagaimana menerima kekalahan dari sebuah kompetisi pemilihan calon presiden. Dari ucapan dan ekspresi Hillary didalam pidatonya di Washington DC kemarin kita bisa melihat kesiapan Hillary menerima kekalahannya dari Barrack Obama dengan kebesaran jiwa. Bila Hillary dikalahkan oleh seorang kandidat yang berkulit putih mungkin saya tidak berkomentar banyak, tapi dia dikalahkan oleh seorang Afro American dan Hillary menerima kekalahan dengan jiwa besar dan malah akhirnya menyarankan pendukungnya memilih Obama sebagai next President adalah sungguh sangat luar biasa. Ternyata keyakinan dan pelajaran yang saya terima dari lingkungan saya dulu di Indonesia salah besar, perempuan juga bisa menjadi pemimpin yang hebat.
Bagaimana dengan Indonesia ? Bila kita berdalih bahwa bangsa Indonesia memiliki keragaman etnis, suku, budaya dan agama, Amerika pun mempunyai keragaman yang sama. Bedanya di Amerika perbedaan etnis, suku, budaya dan agama tidak menghalangi sesorang untuk mendapatkan haknya sebagai warga negara. Di Indonesia apakah seorang keturunan Cina dan bukan Muslim secara dejure/defacto bisa menjadi seorang presiden ? Pertanyaan selanjutnya apakah benar Sukarno, Suharto, Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY adalah warga negara keturunan Indonesia asli dan apakah agama Islam asli dari Indonesia ?
Bila kita ingin Indonesia Bangkit, maka singkirkan primordialisme yang selama ini mengungkung Indonesia demikian pula perbedaan suku, etnis, budaya dan agama hendaknya kita jauhkan dari domain negara dan pemerintah.
Ingat, bangsa lain sedang sibuk memikirkan bagaimana membuat rakyatnya menjadi lebih sejahtera, lha kita ngapain, apakah kita pernah memikirkan saudara2 kita yang hanya makan 1 kali sehari kadang2 tidak makan ? Apakah mungkin Indonesia bisa bangkit kalau rapat kabinetnya hanya disibukkan dengan urusan syahwat dan agama sesat ?
Jawabnya ada pada Inul eh.. salah.. rumput yang bergoyang.

