Post
Memotivasi kumpulan individu didalam sebuah organisasi mungkin tidak semudah memotivasi diri sendiri. Terlebih apabila didalam sebuah organisasi terdapat berbagai tingkat sosial yang berbeda. maka untuk mencapai target tertentu, seorang pimpinan harus bisa memberikan motivasi yang tepat kepada seluruh anggauta organisasi. Namun tidak selalu motivasi untuk mencapai target ini bisa diterima oleh semua anggauta organisasi.
Disamping motivasi perlu adanya suatu provokasi yaitu metode yang hampir sama dengan motivasi namun memberi kesempatan yang sama bagi seluruh anggauta organisasi untuk ikut berkompetisi secara sehat yang disertai stimulasi keyakinan dan manantang kemauan individu untuk melakukan yang terbaik. Provokasi jauh lebih effektif dibandingkan dengan motivasi karena provokasi melibatkan pikiran, perasaan dan menyulut kekuatan bawah sadar untuk mencapai apa yang diyakininya.
Didalam melakukan provokasi, kita perlu mengevaluasi biodata dan keinginan (dream) apa yang ada didalam pikiran setiap individu sebuah organisasi. Dengan biodata yang akurat, maka kita dapat menginspirasikan "New Dream" yang dapat diterima oleh semua pihak.
Tidak semua orang dapat menerima new dream yang kita inspirasikan. Didalam sebuah rapat saya pernah berbicara dengan salah seorang Sales Executive yang tinggal dirumah kontrakan dan yang berpenghasilan mungkin "pas2an". Saya bertanya, "Apakah Anda ingin memiliki sebuah apartment di Mediteranian seharga Rp. 200 juta? Jawaban awalnya (mungkin dengan sedikit kesal) adalah, "Boro2 beli apartment Pak, buat bayar kontrakan aja sering ngutang dulu." Saya kejar lagi dengan pernyataan dan pertanyaan bahwa dream atau keinginan itu gratis, jadi apakah Anda tetap tidak ingin memiliki keinginan mempunyai apartment. Ternyata jawabannya mulai berubah, " Ya saya tahu itu gratis dan tidak ada salahnya kita memiliki suatu keinginan, tapi apakah keinginan saya memiliki apartment realistis dibandingkan penghasilan saya. Apakah saya tidak ditertawakan anak & istri saya kalau saya ceritakan dream saya itu?
Ternyata masih banyak orang disekitar saya yang hidup tanpa berani memvisualisasikan impiannya, apalagi membahas dengan orang lain. Mungkin saja tanpa impian dan harapan kita juga bisa hidup dengan layak tapi menurut saya hidup yang demikian adalah hambar.
Sebagai orang yang beragama mungkin kita tahu bahwa Tuhan itu Maha Pengasih, Pemurah dan Penyayang, tapi bagaimana mungkin kita mengharap sesuatu dari Tuhan kalau kita sendiri tidak tahu apa yang kita inginkan.
Setelah beberapa bulan berlalu tidak berdiskusi dengan Sales Executive tadi, saya tidak tahu apakah provokasi saya menyulut pikiran bawah sadarnya atau tidak, namun yang jelas penjualan beberapa bulan berikutnya meningkat sebesar 500%.
Kesimpulan saya : Motivasi yang dibarengi dengan provokasi akan terus tersimpan didalam pikiran, perasaan dan bawah sadar manusia secara lebih permanen.
- There are no comments yet

