Post
Tanpa terasa Indonesia sudah merdeka selama 63 tahun dan kita boleh berbangga melihat kemajuan Indonesia ditahun 2008 yang sudah sangat berbeda dibandingkan dengan tahun 1945. Orang asing yang baru pertama kali datang ke Jakarta pasti kagum dengan gedung2 yang tinggi dan kepadatan lalu lintas yang dipadati dengan kendaraan bermotor termasuk mobil2 mewah yang lalu lalang di jalan.
Namun apa arti sebuah kemerdekaan bagi rakyat kecil yang tinggal dibantaran sungai atau pemulung disekitar TPS (tempat pembuangan sampah) dipinggir Jakarta? Anda tahu jawaban mereka pasti jauh berbeda dibandingkan dengan jawaban wakilnya yang duduk di Senayan. Kalau yang di Senayan bisa merayakan kemerdekaan dengan gajinya yang berpuluh juta, sedangkan Bang Bejo mungkin baru bisa merdeka ngutang beras diwarung sebelah untuik memberi makan keluarganya hari ini.
Masih untung bagi wong cilik dihari 17 Agustus masih bisa ikut lomba balap karung, panjat pinang dan makan kerupuk peninggalan zaman Belanda dimana pada saat itu sinyo dan noni Belanda melihat "monyet2" inlander rebutan kado diatas pohon pinang dan makan kerupuk.
Sungguh ironis hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia ini, wakil rakyat yang jauh lebih kaya dan berkuasa dari yang diwakilinya, masih tega melakukan korupsi walaupun kemisikinan rakyat yang diwakilinya berada dipelupuk mata. Ternyata bangsa sendiri tidak jauh berbeda kejamnya dari Belanda sang penjajah. Predikat wakil rakyat mungkin hanyalah sebutan pada saat masa kampanye saja, setelah menjabat disebut bos atau pejabat tinggi ya terserah Anda.
- There are no comments yet

